Jumat, 24 Agustus 2018

Peliharaan sebagai apa? Mainan Atau keluarga?

Gua bingung harus gimana dan curhat sama siapa.
Tetangga gua ceritanya "punya" kucing..
Dan skng lagi sakit. Emang cuma kucing kampung, tapi mereka kasih makan dari kecil.
Trus udah berhari2 gak napsu makan, sekarang tidur terus dan lemas.
Sudah berkali2 gua bilang "mba tuh si mpus sakit" sambil gua selingin "kedokter".
Gua cukup tau, di Indonesia itu banyak manusia yang gak peduli ma hewan. Bukan masalah gak mampu kedokter. Tapi manusia ini mungkin lebih sayang duid.

Dan udah berkali-kali juga gua cerewetin bilang "mba beliin kelapa Ijo kek, takutnya keracunan" dan mereka pura-pura gak denger, kadang cuma jawab "iya tuh, dari kemarin mpus lemes" sambil main hape.

Sebagai tetangga yang peduli dengan mahluk hidup ciptaan Tuhan, gua cuma bisa ngasih mpus madu yang dia tolak. Bahkan gua sedikir paksa dia buat makan.
Sejujurnya gua kepikiran mau bawa mpus. Ke Dokter dengan duid pribadi.
Cuma memikirkan banyaknya tagihan dan modal usaha w ga bisa bawa ke dokter. Trus juga itu bukan kucing gua..
Gimana coba? Bingung gak tuh..

Trus sekarang si Mpus makin parah kondisinya. Makin lemes dan gak gerak. Tengah malem si mba panggil-panggil gua. Mereka baru sok-sokan panik dan sedih.
Entah gua yang terlalu Negatif atau apa, tapi kok rasanya itu cuma dimulut aja.

"kaka cika trus gimana dong ini si mpus?" tanya si mba tengah malem.
"yah gak tau, ngomong ucapan terakhir aja buat Mpus"
"yah ngomong apa dong?"
"terserah" gua diem sambil males liatin keluarga mereka. "ngomong aja, udah mpus.. Kita dah ikhlas kalo kamu pergi"
Tuh si Mba diem dan anak-anak mule cengeng. "mpuss maafin aku ya kalo aku punya salah"

Kalo gua jadi Mpus "hah salah apa ya??"

"kasih apa ya yes? Panadol kali ya" kata suami si Mba.

Dalam hati gua berkata "WTF"

"Fafa, beliin susu gih di warung" suruh sang ayah. Untung gak di beliin panadol beneran.

Selang beberapa Menit si Mpus dipaksa minum susu. Setelah minum beberapa mili susu, si mpus Mule berontak dan mule bertenaga sedikit.

"kasih ikan kali ya? Si Mpus kaya orang ini... Belum Makan makanya lemes.. Kasih. Makan aja kali yak" kata si Masnya.

"terserah" kata gua lagi. Masalahnya jem 12 malem cari ikan dimana. Udah gak ada yang buka juga

"yah kalo Ada Ikan ato ayam gua kasih deh" kata si Masnya, yang baru Sadar ga ada apa2. Di rumahnya.

"yah kak Kasih apa Dong Kak? Waktu Pippo sakit kaka kasih apa?" tanya si mba ke gua.

"waktu Pippo sakit kedokter trus di kasih obat" kata gua ketus. Masalahnya elu juga tau pas Pippo sakit gimana.
Kalo sakit dan lo perduli, kalo lo Anggep itu mahluk penting, kalo lo anggep itu hewan keluarga eluuu. Yah lo bawa lah ke Dokter.
Dan perlu di inget aja. Gua ini S1 Psikologi. Bukan Dokter, bukan cenayang, bukan tabib, dan bukan Dewa.
Gua tahu banyak hal karena gua sering denger curhatan temen-temen gua dan nyerap ilmu dan info dari orang lain. Walau gua males baca tapi gua Pendengar yang baik.

"gak papa lah Mpus udah tua juga" kata si. Mba. Oke itu kata-kata cuma buat menghibur diri sendiri dan buat mengurangi rasa bersalah karena menelantarkan mahluk yang "katanya" peliharaan mereka.

"baru 4tahun" kata gua. Untuk menggagalkan usaha kabur dari rasa bersalah.

"oh mpus udah 4tahun" bahkan mereka Ga tau Umur Mpus. Gua tahu karena Mpus 1 tahun lebih tua dari Pippo "emang kucing biasa Kalo Ga sakit berapa Tahun umurnya" tanya mba.

"10 atau belasan tahun. Soalnya kucingnya temenku udah belasan tahun. Dan pas dia sakit kedokter, malah pernah di Icu" jawab gua. Gua inget perah ngasih foto kucing temenku yg di ICU. Dan sekarang itu kucing subur banget.

Yah gua cukup tahu bagaimana perlakuan dan pola pikir manusia-manusia Jaman now yang perduli sama diri sendiri.
Lebih mending mereka sih, masih kasih makan kucing kampung. Dari pada orang-orang yang doyan siksa-siksa hewan dan anggep mereka mainan bukan mahluk hidup.
Cuma yang gua keselin adalah "kemunafikan" aja..
Next time kalo didepan gua, gak usah akting cemas sama Mpus. Karena aslinya adalah lo gak peduli, cuma mau ngambil hati pemilik Kontrakan dan di anggep Baik sama gua.
Entah gimana sebenernya gua dah tau kalo si Mba ini emang suka Ga tulus.
Bisa aja si mpus cuma sebagai alat. Ato si mpus Cuma diAnggap sebagai Mainan. Dan ketika mainan rusak, mudah untuk berpikir "tinggal beli baru lagi".

Sulit buat berpikir positif sekarang.

Senin, 13 Agustus 2018

Doa untuk Tuhan

Setiap malam kupanjatkan Doa untuk Tuhan yang Maha Kuasa. Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Tuhan yang memiliki kuasa atas segala hal di dunia dan diakhirat.
Hanyak kepadanya tempatku meminta. Karena Dia yang paling berkuasa diantara semua mahluk-mahluk lain.

Terkadang aku merasa doaku kurang. Bukan hanya setiap malam, namun setiap aku kosong. Aku berdoa padaNya, meminta padaNya.
Mungkin Dia akan bosan dan mengabulkan permintaanku padaNya.

Didalam serentetan doa dan permohonanku padaNya "Jadikan aku manusia yang lebih baik. Jadikan aku manusia yang Kau senangi. Berikan aku jalan menjadi manusia yang lebih baik."

Dan kini. Ujian sudah datang.
Dia memberiku pertanyaan yang harus aku jawab.
Dia menghadirkan masalah yang harus aku hadapi. Masalah yang selama ini aku hindari.

Dia memberiku ujian yang entah bagaimana harus aku selesaikan.
Logika, moral, perasaan dan hasrat.
Didunia ini ada banyak jalan untuk dilalui.
Dan aku tidak tahu pasti jalan apa yang benar.

Sulit berpikir diotak manusia yang dominan dengan perasaan.
Perasaan yang memudarkan rasionalitas.

Dari pepatah "musuh terbesar adalah diri sendiri"
Maka "ujian terbesar adalah diri sendiri"

Posisiku sekarang, aku gak bisa menyalahkan keadaan dan gak mau menyalahkan orang lain. Jadi kesalahan dan jalan keluar adalah pada diriku. Aku harus berpikir bagaimana aku harus bersikap yang benar.
Apa yang harus aku lakukan, dan apa yang terbaik untuk banyak orang, bukan banyak diriku sendiri.

Postingan ini seperti sebuah catatanku. Catatanku untuk mencari jawaban atas ujian yang aku lalui sekarang.

Ujian atas perasaan dan sikapku.

Kenapa aku harus melalui ini?
Kenapa aku harus di Uji?

Mungkin karena Doaku padaNya.

"Manusia yang lebih baik."

Sulit. Namun aku akan berubah menjadi lebih baik.

Kamis, 24 Mei 2018

KARMA yang aku percaya

Sekarang ini, di Indonesia. Tepatnya daerah pulau Jawa dan sekitarnya, sedang heboh-hebohnya dengan satu acara realitys how mengenai Karma.
Sebenernya sih bukan itu inti yang mau aku bahas. Melainkan makna"KARMA" dan pandangan aku mengenai hal tersebut.

Kalau di cari definisi karma menurut Wikipedia adalah
Karma (bahasa Sanskerta: कर्म Tentang suara ini Karma.ogg ), karma, (Karman ;"bertindak, tindakan, kinerja"[1]); (Pali:kamma) adalah konsep "aksi" atau "perbuatan" yang dalam agama Hindu dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan seluruh siklus kausalitas (yaitu, siklus yang disebut "samsara"). Konsep ini berasal dari India kuno dan dijaga kelestariannya di filsafat Hindu, Jain, Sikh dan Buddhisme.

Sejujurnya, jauh sebelum adanya acara itu, aku sudah percaya karma. Itu juga alasan kenapa KTP aku bertuliskan Budha sebagai agama yang aku anut.
Aku percaya, sekecil apapun perbuatan kita, apapun itu, baik atau buruk pasti ada balasannya. Aku gak terlalu percaya sama namanya "pengampunan". Tepatnya, aku gak suka sama orang yang istilahnya udah keGe'eran atau kePe'dean kalau seluruh dosa-dosanya udah dihapus dengan 1 kali tangisan atau 1 tetes darah atau apapun itu.
Why????
Karena aku berlogika (opini sendiri), kalau orang atau seorang manusia udah keGe'eran atau kePe'dean kalau perbuatan jahatnya sudah di "tebus" atau di "hapus"maka kemungkinan dia bisa mengulangi atau berbuat kejahatan yang lain. Dengan pikiran "ah~~~ nanti juga dosa-dosaku bakal dihapus kalau aku rajin berdoa, rajin ketempat ibadah... rajin ber amal...dan bla-bla-bla"
Yah balik lagi, orang itu beda-beda... yang paling jelek orang yang begitu. Orang yang mencari alasan untuk membenarkan perbuatan jahatnya, atau membuat hati nuraninya hilang.

Contohnya gini, ada seorang pencuri. Dia mencuri untuk perjalanan ibadah yang terbilang cukup mahal. Sehingga dia merampok sebuah rumah. Dengan pikiran dosa-dosanya akan terhapus jika dia melakukan perjalanan ibadah tersebut.
Dalam kasus ini, orang ini merasa benar setelah melakukan kejahatan, karena dia berpikir kalau kejahatan yang dia lakukan untuk ibadah atau kebaikan.

Berbeda dengan orang yang mempercayai Karma. Aku dan segelintir orang mempercayai bahwa ketika kita membuang makanan sedikit saja, maka kita akan mendapat balasannya. Misalnya, jika kita membuang 1 sendok nasi, maka dimasa depan  kita akan kehilangan nasi (rejeki) kita sebanyak 1 sendok juga. Jika kita memberi 1 sendok makan pada orang yang membutuhkan, maka rejeki kita akan bertambah 1 sendok makan.

Aku lupa pernah baca dimana, tapi intinya Sang Budha berkata "manusia boleh tidak percaya kepadaNya (ajaran Budha), tapi harus pecaya akan karma"

Dari sana aku percaya "apa yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai"

Lah trus kenapa ada orang yang dari lahir nasipnya udah jelek??? Bayi kan gak punya dosa apa-apa??

Dalam ajaran agama Budha juga ada konsep "reinkarnasi". Nasip buruk seseorang itu, bisa jadi karena kehidupan masa lalunya yang jahat. Di kehidupan sekarang itu adalah neraka atau balasan atas dosa-dosanya. Bisa juga jadi sarana untuk merubah karma buruk menjadi karma baik.

Sebenarnya juga aku belum terlalu mempelajari ajaran agamaku sendiri, tapi dasar-dasar itu yang aku percaya.

Dari dasar-dasar itu, aku belajar untuk pasrah dan menerima segala masalah atau kesialan yang terjadi dihidupku.
Segala macam ikatan dan jodoh itu adalah paduan harmoni karma baik dan buruk kita di dunia.

Konsep yang lebih dalam lagi untuk ajaran agama itu adalah "kesempurnaan". Jelas aku belum bisa dan belum ngerti. Terutama lepas dari nafsu duniawi.

Walau aku menganut 1 agama, tapi aku suka semua ajaran kebaikan dari setiap agama. Misalnya, aku suka bagaimana ketulusan dan kesungguh-sungguhan orang kristen dalam beribadah. Aku bisa merasakan aura mereka dan niat mereka dalam beribadah. Bukan hanya meminta dan meminta tapi juga menyembah dan memuji Tuhan.
Aku suka ajaran agama yang selalu mengingatkan kita untuk berdoa (sehari 5 waktu), supaya kita tidak lupa pada sang pencipta. Aku suka kewajiban berbuat baik yang harus dilaksanakan dalam agama Islam. Salah satunya seperti menutup aurat. Secara logika menutup aurat itu memang perlu, untuk menghindari pikiran kotor manusia (bisikan setan).
Menutup aurat membuat wanita memiliki nilai yang tinggi, tidak seperti barang murah yang di diskon karena telah dipegang-pegang atau di buka kemasannya.

Dan ajaran Budha yang paling banyak aku suka. Bukan karena patung-patung atau hio-hio wangi itu. Tapi karena ajaran kebaikannya.


Alasan kenapa Roy Kiyoshi (Indigo di realityshow Karma) selalu bersikap ramah, mengajarkan karma baik, selalu bersumbangsih, menghormati orang tua, selalu tersenyum, dan bersyukur adalah karena ajaran kebaikan yang telah dia pelajari dari agama Budha.

Jujur aku iri.
Aku ingin seperti dia.
Bukan, bukan jadi anak indigo.

Aku ingin bisa tersenyum dan ramah seperti dia.
Seperti tante-tante yang ikut bersumbangsih bersama yayasan Tzu chi.

Senyum dan sikap si Roy mengingatkan aku pada ajaran-ajaran Master Chen Yen.
yang harus selalu tersenyum  dan bersikap ramah kepada siapapun dan memiliki hati yang tenang.
Damai.
Lepas dari ke galauan dan kerisauan.

Yap, emang belakangan ini aku lupa sama ajaran-ajaran itu. Tepatnya aku belum bisa melaksanakannya.
Aku masih memiliki dendam, pikiran jahat, rasa iri dan penyesalan. Sikapku juga gak bagus.
Yah aku cuma bisa pasarah akan karma buruk yang telah aku tanam.

Oh ya, aku sih nonton acara Karma itu baru 1 minggu, tapi sejak nonton bikin aku semakin bersyukur. Ternyata penderitaan hidup aku gak ada apa-apanya dibanding orang lain.
Karena Roy, aku jadi ingat untuk menebar bernih kebaikan untuk semua orang. Bukan cuma berbuat baik disaat aku mau saja, tapi kapanpun, dengan siapaun dan dimanapun.

Satu perkataan Master yang aku inget cuma "Jangan menyiksa diri sendiri dengan kesalahan orang lain" dalam 1 kalimat itu mengartikan banyak hal. Kita dianjurkan untuk melepas dendam. Dendam itu adalah menyiksa diri sendiri. Kita menjadi tidak tetang, benci, dan jahat karena dendam. Kita diajarkan untuk melepas, merelakan dan pasrah. Yah kalau dendam yang ada dalam diri kita hanya keburukan, dan itu sama aja menyiksa diri sendiri.
Sekarang aku ingin berusaha menjalani karma burukku dengan lapang dada dan menanamkan karma baik.
*berusahan bijak

Yah sedikit aku mau curhat mengenai Roy Kiyoshi. Emmm dari hasil Stalking aku di sosmed, you tobe dan lainnya. Sepertinya nama Aslinya bukan Kiyoshi, tapi Roy Kurniawan.
Emmm
Sejujurnya, banyak banget pertanyaan aku mengenai sosok ini.
Sosok 1 ini bikin kepo sih. Aku gak kepo masalah percintaan atau masalah-masalah pribadi yang kaya gitu.. aku pengen tahu kenapa "Kiyoshi"???
emmm dalam bahasa Jepang きよし Kiyoshi Artinya "Salju". Apa dari bahasa Jepang nama itu diambil?
Jika Ya, kenapa Salju?
Apa dia suka salju?

Kalau dia anak normal, kira-kira cita-cita dia apa ya?
atau dia bakal jadi apa kalau jadi anak normal?
Trus dia suka ngoleksi boneka-boneka yang memiliki jiwa, jujur aku penasaran sama cerita "temen-temen"nya Roy. Kayanya ceritanya menyedihkan banget.
Aku pengen tahu, kalau suatu saat Roy meninggal, itu boneka bakal di apain?
Kan ada jiwanya, bakal repot kan kalo gak ada yang kontrol. Sedangkan yang bisa kontrol cuma Roy.

trus liat Roy yang bisa liat masa depan, aku jadi inget sama Mama Lauren. Dia pernah meramalkan, bakal ada yang menggantikan dia tapi belum muncul (masih belum mau "keluar"). Kalo gak salah dia bilang kalau penggantinya bakal lebih besar powernya dari Mama Lauren. Apa orang yang dimaksud Mama Lauren itu Roy?

Trus katanya dia bisa lihat masa depan sendiri, dia sudah lihat siapa pasangan hidup dia. Emmm
Aku pengen tanyain ini dan di jawab langsung sih sama Roynya. Tapi yah sulit, karena dia lagi sibuk.

Aku berasumsi sendiri, menduga-duga sendiri kalau dia  (Roy) ikut acara karma, atau menjadi paranormal di acara itu untuk berumbangsih. Mengamalkan kelebihannya untuk membantu orang-orang, bukan sekedar karena uang, dan popularitas.

Cuma liat Roy yang semakin terkenal dan stasiun televisi itu mulai lebay, Roy disuruh tampil di acara ini dan itu. Asumsiku agak sedikit hilang, semoga Roy gak beneran cuma incer popularitas, tapi beneran mau bantu orang dengan tulus.
Aku juga agak cemas sih. Yang aku tahu, orang-orang yang memiliki kelebihan kaya Roy, fisiknya bakal kekuras. Kaya capek, atau sakit-sakitan gitu. Aku takut suatu saat nanti, kalau dia terlalu banyak pake kelebihannya, fisiknya gak kuat. Apa lagi dia terlalu forsir buat acara-acara televisi yang gak jelas. Jadi Artis biasa aja kayanya capek, ini artis yang kelebihannya selalu di pake, buat "barang" dagangan televisi.
*bahasa kasarnya

Yang jelas aku suka Roy bukan karena fisiknya aja, aku suka sama pemikiran dan perbuatan-perbuatan dia. Menurutku dia cocok di jadiin idola sih. Dibanding artis-artis dadakan yang bekas narapidana gak jelas.  
*agak menyinggung

Wahhhh blom apa-apa udah lupa mau menghindari karma buruk... 
hehehehhe

Oke postingan ini mau disudahi saja, sebelum aku mule nyinyir artis-artis lain...

Rabu, 11 April 2018

Wanita memiliki prinsip dan hargadiri

"Harga diri? Emang harga lo berapa?"
Sekarang ini Wanita sering sekali dipandang rendah, Bukan hanya oleh Pria tapi oleh Wanita itu sendiri. Seolah memang sudah tidak ada lagi yang memandang derajat wanita itu tinggi.
Walaupun sejak dulu memang derajat wanita selalu dibawah Pria. Bukan berati wanita tidak punya hargadiri.

Ada istilah "Wanita dijajah Pria sejak dulu"
Memang nyatanya, secara simbolis ataupun tidak wanita selalu "dibeli" Pria.
(Walau ada juga laki-laki yang "dibeli" wanita.)

Seolah Wanita adalah sebuah barang yang bisa dipakai, disimpan dan dibuang.
Wanita sangat berfungsi sehingga diinginkan oleh Pria.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia,
wanita/wa·ni·ta/ n perempuan dewasa: kaum -- , kaum putri (dewasa);

Seperti memilih hanphone di Mall atau OlShop. Pria melihat wanita dari segi penampilan, terkadang melihat kualitas dan fungsinya dulu. Tergantung selera masing-masing.
Melihat barang yang desainnya keren, mulus, prosesornya uptodate (cantik dan pintar), Pria ingin mencobanya. Setelah suka pada suatu barang yang dia lihat itu, kebanyakan Pria menginginkan barang yang "baru".
Padahal barang yang sudah dia coba akan menjadi barang "bekas" yang sulit "dijual".

Mungkin karena terlalu banyak, membuat barang second ini menjadi barang pasaran yang menarik untuk dibeli. Seperti sebuah handphone. Handphone second selalu laku dan diincar, walah sudah menjadi barang bekas.

Wanita diumpamakan sebagai handphone.
[Lagi-lagi menyamakan manusia dengan barang.]

Banyak handphone baru yang dianggap second atau Kw, karena meningkatnya jumlah handphone second. Handphone baru dianggap sama murahannya seperti handphone second. Padahal cukup sulit menjadi handphone baru dijaman sekarang.

Banyaknya handphone second, seolah membuat handphone baru merasa direndahkan, bahkan tidak laku. Terus tersimpang digudang hingga rusak.

Kasus yang sering terjadi, seperti pelecehan seksual. Terjadi bukan hanya pada perempuan dibawah umur, namun juga wanita dewasa. Seringkali "pakaian" wanita dianggap sebagai pemicu. Korban ikut disalahkan, menjadi aib dan dikucilkan. Seperti pribahasa "sudah jatuh tertimpa tangga".
Padahal nyatanya, tidak selamanya korban adalah pemicu tidakan tersebut. Ada pameran yang mengoleksi pakaian-pakaian wanita saat terjadi pelecehan seksual. Pakaian yang dipamerkan adalah pakaian biasa, yang semua orang biasa kenakan. Kaos dengan celana panjang, bahkan baju anak kecil dengan gambar kuda poni. Korban pelecehan di kereta pun kebanyakan adalah orang yang memakai pakaian tertutup.

Mungkin "Wanita sering dianggap murahan" dan hal ini yang sering aku temui saat ini.

Contoh simplenya. Sebagai seorang wanita, pernahkah ketika berjalan kaki, entah hendak membeli sayur ataua sekedar membeli sesuatu di warung. Kemudian ada bisikan, atau suara-suara setan "Cewe~~~", "Swiittt~~~", atau " Shuuuttt~~ Shuutt~". Keluar dari mulut laki-laki yang entah berada dimana.
Apa Wanita itu merasa dilecehkan???
atau dianggap sebagai hal yang sudah biasa atau wajar?

Aku sebagai Wanita, merasa telah dilecehkan, dikerjain, dan merasa dihina. Kenapa?
Mereka (laki-laki), menimbulkan suara seolah memanggil kita (wanita). Entah dengan tujuan "menggoda", "iseng", atau "sengaja melecehkan". Itu gak sopan. Menurutku.
Apa laki-laki itu berpikir, semua wanita senang dipanggil-panggil seperti itu?
atau mereka berpikir "siapa tau bisa kenalan?" atau "siapa tau suka digodain?"
Sehingga aku merasa, paggilan tanpa tujuan yang jelas itu sebagai "pelecehan".

Ketika mendengar suara sapaan, panggilan, atau tepukan degan automatic prosesing semua orang akan menengok ke sumber suara. Mereka (laki-laki setan itu) mengggap semua wanita suka diperlakukan seperti itu, dan terus mengulanginya.
Justru laki-laki itu terlihat sangat murahan. Dimataku.

Sedikit cerita, baru-baru ini aku terpaksa kenal dengan seseorang laki-laki yang suka melakukan pelecehan dengan memanggil setiap gadis atau wanita yang lewat didepannya. Laki-laki itu berusia sekitar 20tahun, lajang dan sok asik. Selalu berusaha menggoda wanita. Entah siapapun itu.
Gak cuma sekali atau dua kali juga dia melakukannya padaku. Dan aku sangat membencinya.

Mungkin bagi sebagian wanita suka, tapi untuk aku sangat menyebalkan. Bahkan sapaannya saja sangat mengganggu, karena persepsiku dan "halo efek" padanya sudah sangat buruk.
Dan aku terjebak dengan laki-laki itu disatu lingkungan tempat kerja.
Dari awal dkami bertemu dia sudah berkata "Ih ada awewe" dan hampir tiap hari aku merasa dilecehkan olehnya, ketika dia mengeluarkan suara "Swiitt~ switt~~", "Cewee", "Mbaaa" dan selalu mencari perhatian.
"Wangi amat mba, pake parfum apa", "hei cantik" *wtf
Dia sangat sukses membuat saya kesal. Mungkin dia berpikir semua wanita suka dibilang cantik. Tapi, pada kondisi seperti ini, perkataannya aku anggap sebagai suatu cara dia menggoda wanita murahan. Ketika dia melakukannya padaku, aku merasa terhina, karena dianggap wanita murahan

Mungkin laki-laki akan berpikir, "Sombong amat sih nih cewe." Tapi apakah dia tahu kalau perbuatannya itu merendahkan wanita dan melukai harga diri wanita?

Sekedar menyapa lawan jenis sebagai seorang teman atau kenalan tidak perlu melakukannya berlebihan. Jikapun itu hanya bercanda, tidak perlu diulangi hampir setiap hari. Apa lagi melihat orang tidak suka di sapa seperti itu.


Contoh lain, seorang wanita yang tinggal serumah dengan seorang laki-laki yang bukan keluarganya atau pacarnya. Dianggap telah melakukan hubungan badan dengan laki-laki yang tinggal bersamanya.
Padahal aku pikir belum tentu.

Memang aku gak pernah memasang CCTV atau memantau orang-orang tersebut hingga 24jam. Tapi aku memiliki keyakinan, jika mereka memang tidak melanggar norma yang mereka punya. Terkadang karena kondisi mereka harus tinggal bersama. Kebanyakan karena meraka perantauan, yang jika tinggal bersama lebih menghemat biaya, dibanding tinggal terpisah.

Seperti seorang temanku yang aku kenal selama bertahun-tahun. Dia terpaksa tinggal dengan pacarnya dan keluarga pacarnya di kota lain, karena pekerjananya. Banyak yang berpikir negatif tentang temanku itu. "Kenapa gak nikah aja? biar sah"
Menikah atau tidak, itu urusan pribadi masing-masing. Walau aku sebagai sahabatnya, aku tidak punya hak memaksanya menikah, kalau memang dia belum siap.

Bagi kami, menikah itu bukan permaian dan hal yang sepele. Bukan hanya sebuah perjanjian di atas kertas, tapi komitmen seumur hidup. Dan aku percaya dia tidak akan melakukan apa-apa dengan pacaranya sebelum resmi menikah. Karena, jika aku ada di posisi yang sama dengannya, mungkin aku juga tidak akan berbuat seperti itu.

Aku percaya teman-temanku masuk kedalam golongan wanita yang memiliki prinsip dan hargadiri.
Mungkin masyarakat sekarang kebanyakan nonton film barat, sehingga percaya semua orang memiliki prinsip dan pemikiran yang sama seperti orang barat. Yang ketika sudah pacaran bebas melakukan hubungan badan.

Dan banyak teman-temanku sesama wanita, yang memilik prinsip dan harga diri ini yang masih melajang. Entah karena tidak "laku", terlalu pilih-pilih atau trauma.


 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo